

JAKARTA,RadjawaliPost-Kasus penemuan tujuh mayat remaja di Kali Bekasi, Jatiasih, membuat publik terhenyak. Ketua Harian Kompolnas, Benny Mamoto, langsung angkat bicara, meminta Polri segera bertindak menggunakan pendekatan ilmiah. “Kami berharap Polri belajar dari kasus Afif Maulana di Padang, agar proses penyelidikan ini lebih optimal,” ujarnya pada Senin (23/9/2024), dikutip dari KompasTV. Metode scientific semacam ini penting untuk membedah detail kasus, termasuk melalui pemeriksaan CCTV dan tes DNA untuk mengidentifikasi kepemilikan senjata tajam yang diduga terkait dengan insiden tersebut.
Jejak Digital dan Rekam Tawuran: Kunci Penyelidikan

Benny tak hanya menyoroti bukti fisik. Ia mendesak agar Polri segera menelusuri jejak digital para korban, saksi, dan tersangka. “Patroli siber harus dikerahkan untuk memantau interaksi anak-anak ini di media sosial. Jejak digital di ponsel mereka juga harus diungkap untuk mengetahui apakah mereka terlibat dalam tawuran berulang,” tegas Benny. Langkah ini diharapkan mampu mengidentifikasi kelompok-kelompok remaja yang kerap terlibat tawuran, sehingga langkah preventif dapat dilakukan, baik dengan melibatkan orang tua maupun tokoh masyarakat. “Berikan mereka aktivitas positif, seperti olahraga dan seni,” imbuhnya.
Polri Diminta Rekonstruksi Kronologi untuk Ungkap Kebenaran
Benny juga mendorong kepolisian agar segera menyelesaikan pemeriksaan saksi dan tersangka, lalu menggelar rekonstruksi kejadian. “Rekonstruksi penting untuk memahami secara rinci kronologi peristiwa ini. Kami akan hadir di lapangan untuk memantau jalannya proses tersebut,” jelas Benny. Tak hanya itu, ia menegaskan bahwa Kompolnas akan terus mengawasi setiap tahapan kasus ini sampai tuntas.











