Radjawalipost – Ada masa yang tak bisa kita ulang, namun diam-diam terus hidup di dalam diri masa kecil generasi 70 hingga 90-an.
Di waktu itu, hidup berjalan lebih pelan. Hari-hari dipenuhi suara tawa, langkah kaki yang berlari di tanah lapang, dan langit yang terasa begitu dekat. Kita tumbuh tanpa distraksi layar, tanpa notifikasi yang berisik.
Permainan sederhana seperti kelereng, layangan, atau bentengan bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang belajar tentang strategi, keberanian, dan menerima kekalahan tanpa banyak drama.
Yang paling berharga, mungkin, adalah kebersamaan. Tidak ada sekat berarti antara si kaya dan si sederhana.
Namun tidak semua cerita masa kecil dilapisi cahaya yang sama. Sebagian anak sudah mengenal kerasnya hidup lebih awal berjualan, membantu orang tua, atau memikul tanggung jawab yang terlalu besar untuk usia mereka.
Di balik semua itu, tersimpan satu benang merah: kesederhanaan. Bahagia tidak membutuhkan banyak syarat. Cukup teman, waktu, dan ruang untuk menjadi diri sendiri. Sesuatu yang kini terasa mewah di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan.
Mungkin kita tidak benar-benar merindukan masa itu. Kita merindukan versi diri kita yang lebih utuh yang mampu merasa cukup, yang tidak takut jatuh, dan yang tahu bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.
Karena pada akhirnya, ketangguhan bukan sesuatu yang diajarkan. Ia tumbuh, perlahan, dari kehidupan yang dijalani dengan apa adanya.










