RadjawaliPost-Perkembangan motorik anak tidak selalu harus diasah melalui program mahal di luar rumah. Menurut dr. Amanda Soebadi SpA(K), seorang dokter anak konsultan neurologi, stimulasi optimal bisa dilakukan di rumah dengan cara sederhana namun efektif. “Berikan anak kesempatan untuk eksplorasi lingkungan,” ujar Amanda. Aktivitas seperti bermain, duduk, atau tengkurap bisa menstimulasi motorik anak sesuai usia dan tahap perkembangannya.
Amanda menekankan pentingnya memberikan pengalaman sensoris yang beragam untuk mendukung perkembangan motorik anak. Selain itu, ia mengingatkan bahwa jika anak menggunakan kursi bersabuk, waktu penggunaannya harus dibatasi maksimal dua jam sehari.
Baby gym memang bisa menjadi alternatif, namun hal ini tidak harus dilakukan. Biasanya, kegiatan ini diikuti oleh bayi berusia enam bulan hingga dua tahun, yang masih berada dalam fase bermain sendiri. Amanda menambahkan bahwa orangtua wajib memahami tahapan perkembangan motorik anak agar dapat memberikan intervensi yang tepat jika diperlukan.
Tahapan perkembangan motorik yang paling mudah diamati adalah motorik kasar, seperti mengangkat kepala pada usia empat bulan, tengkurap di usia enam bulan, duduk sendiri pada usia enam hingga tujuh bulan, dan merangkak pada usia delapan hingga sembilan bulan. Anak biasanya mulai berjalan pada usia 12-16 bulan.














