Radjawalipost, Jakarta – Sinyal krisis ekonomi global disebut makin nyata dan bahkan disebut tinggal menunggu waktu. Sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan serius, mulai dari pelemahan rupiah, gejolak pasar saham, hingga ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat disrupsi teknologi, Minggu (22/3/2026).
Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah dilaporkan telah menembus kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS. Level ini mengingatkan pada tekanan berat yang pernah terjadi saat krisis 1998. Kondisi tersebut bukan sekadar angka, tetapi berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Salah satu efek yang paling terasa adalah inflasi impor. Banyak barang kebutuhan sehari-hari di Indonesia masih bergantung pada komponen impor, mulai dari bahan bakā¦














